The devil on me.

Pernah
lihat tukang becak yang sudah kakek-kakek ?

Pernah
lihat ibu tua memanggul setumpuk kayu untuk dijual ?

Pernah lihat anak kecil memikul banyak
batu mortar ?

atau mungkin pernah lihat laki-laki yang
kakinya hanya satu mengebor beton di jalan tol ?

 

 

Saya sering melihat itu semua,

Bahkan hampir setiap hari.

 

 

Saya sendiri tidak pernah bisa
membayangkan, apabila saya yang berada di posisi mereka, apakah saya mampu
bertahan sekuat mereka ?

 

 

Saya dilahirkan dari keluarga yang tidak
kaya, namun mampu.

Saya dibesarkan oleh dua orang tua yang
sempurna, jumlahnya lengkap hingga sekarang.

Saya tumbuh dengan makanan, perlindungan,
pendidikan, bahkan mainan yang lebih dari cukup.

Saya menapaki usia-usia saya bersama
teman-teman yang peduli dan menyayangi saya.

Saya jarang sekali sakit berat, bahkan
saya tidak pernah satu kalipun masuk rumah sakit.

Saya selalu bersekolah di sekolah-sekolah
dan universitas yang dipuji-puji banyak orang, tanpa uang pelicin macam apapun.
Semua berdasarkan kemampuan otak saya sendiri.

Saya selalu dapat mencapai apa yang saya
inginkan.

 

 

Tapi, kenapa sering sekali saya merasa tidak
bahagia?

Sering sekali wajah ini seolah-olah
memikul beban hidup yang begitu berat.

Tak jarang juga keluhan, bahkan tangisan
keluar dari mulut dan mata saya.

 

 

Salah, ya…pasti ada yang salah dengan
diri saya…

Saya memang bukan apa-apa dibandingkan
dengan tukang becak tadi, saya tidak sesabar ibu tua tadi, saya tidak setegar
anak kecil tadi, dan terlebih lagi, saya juga tidak sepandai laki-laki tadi.

 

 

Saya ini hanya manusia yang sok dan
sombong, senang berbicara, tak pandai berbuat, makan pun masih pilih-pilih.

Saya benar-benar manusia yang tak pandai
bersyukur.

Begitu seringnya saya mengeluhkan
kehidupan saya, menangisi apa yang seharusnya tidak perlu saya tangisi.

Saya pemalas kelas kakap, yang
cita-citanya seutopis kalimat seorang presiden kita, ”Saya berjanji, harga BBM
tidak akan naik lagi.”

Tak jarang mulut saya ini menyakiti
perasaan orang lain.

Ego saya terlalu tinggi untuk mengalah,
walaupun mungkin seharusnya saya memang lebih baik mengalah.

Bahkan, tanpa berkata-kata pun, saya
sering kali menyusahkan orang lain. Saya selalu menjadi beban orang lain.

Pekerjaan saya hanya memanjang-manjangkan
dan membesar-besarkan masalah, tanpa peduli masalah orang lain.

Saya sering iri dengan orang yang berada
di atas saya, padahal orang itu juga tidak punya salah apa-apa kepada saya,
bahkan kenalpun tidak.

Saya juga pendendam, dan sering
berprasangka buruk dengan orang lain.

Penyakit hati dan jiwa saya banyak, tidak
jarang ingin sekali saya membayar seorang psikiater untuk memeriksa keadaan
saya.

Dan yang lebih parahnya lagi, dengan orang
tua dan Tuhan saya pun saya masih sering durhaka.

Saya ini penjahat.

Setiap orang yang dekat dengan saya pasti
pernah saya rugikan, termasuk orang-orang yang saya cintai.

 

 

Tulisan ini pun entah mengartikan bagian
yang mana dari paragraf yang berada tepat di atas paragraf yang sedang saya
tulis ini.

 

 

Lebih baik jangan terlalu dekat dengan
saya, karena anda hanya akan sering mendengar keluhan-keluhan naif dari mulut
saya.

Lebih baik jangan jatuh cinta pada saya,
karena saya ini wanita yang sama sekali tidak dewasa, dan anda hanya akan
merasa bosan berada di dekat saya.

 

 

 

 

 

” Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang
kamu dustaka ?” (Q.S Ar-Rahman)

 

mungkin saya salah satu yang tanpa sadar
hampir mendustakan seluruhnya…

 

Naudzubillah tsumma naudzubillah !!!!!!

 

One Response to “The devil on me.”

  1. Agnilia Says:

    insight-mu masih sangat bagus, ko,,,
    buktinya kamu bisa menilai dirimu dengan benar,,,
    selain itu judgement-mu jg bgs,,,
    kamu bisa mengambil keputusan yang tepat, tahu mana yang benar, mana yang salah,,,

    Kita harus sering2 mengucap: “Alhamdulillah,,,”
    dan jangan takut u/menjadi gadis yang lebih baik dari hari ke hari,,,;)

Leave a Reply