Sandiwara Fabel : Tujuh Meter dari Bangsal Jiwa

Semburat goresan pena hitam terukir jelas di wajah itu..

Seolah bekerja keras mengaburkan kenaifan yang memuakkan..

Menjumput, mengais belas kasihan dari orang-orang dengan topeng
binatang..

Di atas panggung itu kau bermain..

Panggung dengan sengkala dalam cerita..

 

Di sini aku berdiri..

Di sini aku tersekat dari gerak..

Di sini aku berdialog dalam kenisbian,

cih…

rupanya aku mulai terjangkit schizofrenia catatonic..

ahh…pecundang macam apa pula aku ini..

hanya bisa terdiam, dan menerawang kosong dari balik bangsal jiwa..

 

Bangsal dengan bilik berjamur tempatku tidur,

tidak jauh dari panggung orang-orang bertopeng binatang..

Bahkan aku bisa mendengar, menyaksikan dengan jelasnya

bagaimana mereka bersandiwara..

 

Hmmm…

sesimpul senyum tergaris di bibir yang semakin menghitam ini..

 

dulu, waktu aku masih muda..

aku pemeran utama wanita dalam sandiwara mereka..

 

dulu, waktu aku masih muda..

aku yang diarak di atas garuda..

 

dulu, waktu aku masih muda..

aku yang paling mereka puja..

 

hingga sampai di masa itu,

saat dimana topeng dewi sri digantikan dengan topeng binatang,

dan aku terpuruk bagaikan seorang yang terkena teluh..

Ditinggalkan di jalan..

Dicampakkan tanpa belas kasihan

Tersentak, aku terkekeh perlahan menanyakan..

apakah aku perlu belas kasihan?

 

Tidak!!!!!

 

Aku hanya ingin wajah dengan goresan pena hitam itu memikirkan,

TAHUKAH  KAMU  RASANYA
DIJADIKAN  KUDAPAN??!!!

 

 

Bandung, 080308/14:26

-dalam sesak yang melesak-

-dalam amarah yang menyeruak-

 

2 Responses to “Sandiwara Fabel : Tujuh Meter dari Bangsal Jiwa”

  1. Fondea Says:

    People should read this.

  2. dyahanindita Says:

    He?

    thanks anyway.. :)

Leave a Reply