Cerita yang tidak jadi..

July 10th, 2008 by dyahanindita

Untuk
kesekian kalinya dalam minggu ini cephalgia saya kembali kambuh. Kemunculannya
kali ini entah karena apa. Seharusnya setelah saya menenggak satu gelas teh
hangat dengan satu butir analgesic sebagai kudapannya, saya sebaiknya segera
pergi tidur. Namun kali ini saya memilih kembali di depan komputer saya
tercinta lagi, untuk kembali menulis. Jangankan sinar dari monitor, lampu kamar
saya saja sebenarnya cukup menambah nyeri kepala saya ini.

 

 

Penyakit
keturunan ini memang menyebalkan. Terkadang membuat saya sangat kerkekang.
Wah…wah… untuk apa sebenarnya saya menyebutkan kata “keturunan” barusan ? mau
menyalahkan seseorang ?

Haha..tidak.

 

 

Penyakit
ini saya derita sejak saya masih kecil. Dulu mungkin efeknya jauh lebih parah,
ketika penyakit ini kambuh, saya pasti muntah-muntah. Ketika saya sedang
terserang, saya sering sekali membayangkan, saya mengiris-ngiris kulit kepala
saya, lalu saya ambil salah satu pembuluh darah dan saraf yang ada, saya
potong, dan saya keluarkan isinya. Saat itu membayangkannya saja sudah sedikit
membantu mengurangi rasa nyeri yang saya derita. Rasanya seperti plong… ada
yang terlepas dari kepala saya. Mengerikan ? ah tidak, biasa saja. Apalagi jika
anda termasuk penderita seperti saya.

 

 

Hidup
saya begitu bergantung pada butir-butir analgesic dan warm water sack
saya yang tak pernah lupa saya bawa kemanapun saya pergi.

 

 

Ahhh…jadi
out of topic.

Sebenarnya
tadinya saya ingin bercerita tentang satu fenomena yang akhir-akhir ini
tertangkap oleh indera saya, muncul ketika maghrib tiba, yaitu saat saya masih
berada di jalanan, di dalam angkutan umum. Tapi tiba-tiba saya malas.

 

 

Oh
ya, ngomong-ngomong, hari ini untuk kesekian kalinya saya diklakson keras oleh
mobil “indah” di tempat saya harus berpindah angkutan umum, ketika saya sedang
menyebrang.

 

Tahpapa…saya
hanya ingin menyebrang, juragan…

toh
saya juga menyebrang sudah dengan melambai-lambaikan tangan saya sekuat tenaga
sejak juragan masih berjarak jauh dari saya…

ah juragan saja yang tidak peka.

 

 

Sekarang tubuh saya mulai menggigil,
mungkin efek dari analgesic yang saya minum tadi. Dan mungkin juga saya memang
sudah diperintahkan untuk tidur.

 

 

Good night..

Sleep tight..

 

sekali-sekali okey laa..

July 9th, 2008 by dyahanindita

Terkadang, saya memang seperti banci.

Padahal saya tidak perlu menjadi banci jika hanya ingin meniru-niru tingkah laku wanita.

3 sifat banci yang sering saya adopsi :

1. pengecut
2. sering jeles sama perempuan cantik
3. gampang marah

Tapi kasian juga ya, ternyata korban saya kali ini adalah banci a.k.a. bencong.

yah..beginilah, menyampah di blog saja jika tidak ada pekerjaan, daripada mengintip fs orang dengan cara licik.
fufufufu…

The devil on me.

July 8th, 2008 by dyahanindita

Pernah
lihat tukang becak yang sudah kakek-kakek ?

Pernah
lihat ibu tua memanggul setumpuk kayu untuk dijual ?

Pernah lihat anak kecil memikul banyak
batu mortar ?

atau mungkin pernah lihat laki-laki yang
kakinya hanya satu mengebor beton di jalan tol ?

 

 

Saya sering melihat itu semua,

Bahkan hampir setiap hari.

 

 

Saya sendiri tidak pernah bisa
membayangkan, apabila saya yang berada di posisi mereka, apakah saya mampu
bertahan sekuat mereka ?

 

 

Saya dilahirkan dari keluarga yang tidak
kaya, namun mampu.

Saya dibesarkan oleh dua orang tua yang
sempurna, jumlahnya lengkap hingga sekarang.

Saya tumbuh dengan makanan, perlindungan,
pendidikan, bahkan mainan yang lebih dari cukup.

Saya menapaki usia-usia saya bersama
teman-teman yang peduli dan menyayangi saya.

Saya jarang sekali sakit berat, bahkan
saya tidak pernah satu kalipun masuk rumah sakit.

Saya selalu bersekolah di sekolah-sekolah
dan universitas yang dipuji-puji banyak orang, tanpa uang pelicin macam apapun.
Semua berdasarkan kemampuan otak saya sendiri.

Saya selalu dapat mencapai apa yang saya
inginkan.

 

 

Tapi, kenapa sering sekali saya merasa tidak
bahagia?

Sering sekali wajah ini seolah-olah
memikul beban hidup yang begitu berat.

Tak jarang juga keluhan, bahkan tangisan
keluar dari mulut dan mata saya.

 

 

Salah, ya…pasti ada yang salah dengan
diri saya…

Saya memang bukan apa-apa dibandingkan
dengan tukang becak tadi, saya tidak sesabar ibu tua tadi, saya tidak setegar
anak kecil tadi, dan terlebih lagi, saya juga tidak sepandai laki-laki tadi.

 

 

Saya ini hanya manusia yang sok dan
sombong, senang berbicara, tak pandai berbuat, makan pun masih pilih-pilih.

Saya benar-benar manusia yang tak pandai
bersyukur.

Begitu seringnya saya mengeluhkan
kehidupan saya, menangisi apa yang seharusnya tidak perlu saya tangisi.

Saya pemalas kelas kakap, yang
cita-citanya seutopis kalimat seorang presiden kita, ”Saya berjanji, harga BBM
tidak akan naik lagi.”

Tak jarang mulut saya ini menyakiti
perasaan orang lain.

Ego saya terlalu tinggi untuk mengalah,
walaupun mungkin seharusnya saya memang lebih baik mengalah.

Bahkan, tanpa berkata-kata pun, saya
sering kali menyusahkan orang lain. Saya selalu menjadi beban orang lain.

Pekerjaan saya hanya memanjang-manjangkan
dan membesar-besarkan masalah, tanpa peduli masalah orang lain.

Saya sering iri dengan orang yang berada
di atas saya, padahal orang itu juga tidak punya salah apa-apa kepada saya,
bahkan kenalpun tidak.

Saya juga pendendam, dan sering
berprasangka buruk dengan orang lain.

Penyakit hati dan jiwa saya banyak, tidak
jarang ingin sekali saya membayar seorang psikiater untuk memeriksa keadaan
saya.

Dan yang lebih parahnya lagi, dengan orang
tua dan Tuhan saya pun saya masih sering durhaka.

Saya ini penjahat.

Setiap orang yang dekat dengan saya pasti
pernah saya rugikan, termasuk orang-orang yang saya cintai.

 

 

Tulisan ini pun entah mengartikan bagian
yang mana dari paragraf yang berada tepat di atas paragraf yang sedang saya
tulis ini.

 

 

Lebih baik jangan terlalu dekat dengan
saya, karena anda hanya akan sering mendengar keluhan-keluhan naif dari mulut
saya.

Lebih baik jangan jatuh cinta pada saya,
karena saya ini wanita yang sama sekali tidak dewasa, dan anda hanya akan
merasa bosan berada di dekat saya.

 

 

 

 

 

” Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang
kamu dustaka ?” (Q.S Ar-Rahman)

 

mungkin saya salah satu yang tanpa sadar
hampir mendustakan seluruhnya…

 

Naudzubillah tsumma naudzubillah !!!!!!

 

wah, oh, Non..

July 7th, 2008 by dyahanindita

non, mulai lelah berdialog dengan siang ?
non, mungkin bisa mulai berpaling kepada malam
hening, dingin dan mencekam..

kamu yang bilang..
non, kemari..
malam menunggu kami.

ah..non, jangan terlalu banyak bermain hati,
nanti kamu sakit sendiri..

bukankah kamu sendiri yang bilang..
non, belah saja dada ini..
ini sumpah, bukan janji.

kamu ini non…mudah sekali dibodohi,
memangnya sekarang siapa yang peduli ?

kan kamu sendiri yang bilang !
untukkku kamu rela mati ?!

ahahahaha….
ternyata nona ini benar-benar hanya seonggok pecundang yang sakit hati.

Hidup Saya Sekarang

July 7th, 2008 by dyahanindita

Saya benar-benar rindu menulis, menulis laporan, menulis sajak, menulis blog, atau apapun.
Lama saya tidak mempekerjakan otak saya yang semakin hari semakin saja tumpul ini untuk memikirkan hal yang setidaknya berguna untuk diri saya sendiri.
Pekerjaan saya liburan ini hanya dihabiskan untuk kerja praktek, yang juga banyak bengongnya…
Saya sendiri sekarang bingung datang ke kantor, lalu ? pada akhirnya saya hanya duduk berjam-jam di depan komputer ini sambil jari-jemari saya aktif menekan-nekan tombol keyboard, itu pun lagi-lagi hanya untuk hal-hal yang tidak berguna.

Semakin hari, semakin banyak saja pikiran-pikiran aneh yang perlahan menggerogoti jiwa saya.
Entahlah, saya merasa sedang berada di titik bawah. Tiba-tiba saya benar-benar kehilangan semangat hidup.
Saya mulai berpikir lelah mengejar cita-cita saya, yang kata beberapa orang, cita-cita saya terlalu banyak dan terlalu utopis.
Saya mulai lelah bermain-main dengan hidup, dan yang mungkin lebih buruk, saya mulai bosan hidup.
wah..wah..jangan lah…

Saya benar-benar rindu separuh jiwa saya, jiwa sanguins saya. Oh ya, ngomong-ngomong, saya ini seorang sanguins-melankolis loh.. dua kepribadian yang sebenarnya hampir mustahil berjalan berbarengan dalam satu jiwa.
Jika diibaratkan, melankolis ada di ujung barat tempat matahari terbenam, sedangkan sanguins berada di ujung sebelah timur tempat matahari terbit.

ya, sanguins melankolis yang approx. 8 bulan terakhir ini saya menjadi begitu melankolis.
Apakah anda tahu bagaimana rasanya menjadi seorang melky? melelahkan, dan ke-melky-an saya tak jarang mengancam keberlangsungan hidup saya [hahahaha...memang agak berlebihan, bagian ini].

Begitulah hidup saya sekarang…

Images

Pernahkah kau mengerti, apa itu sunyi [??]

July 7th, 2008 by dyahanindita

Larik secungkil penyesalan begitu kental
mengikis harum kebahagiaan yang telah tersusun rapi,

aku ingin nikmati bumi,                                                         

namun langit menahanku,
aku ingin nikmati sunyi,
namun dunia merayuku,

 

aku hanya dahan yang tercabut akar,
jangan, jangan kau kejar..
biarkan alam yang menuntunku,

disanalah takdirku kelak.
di bawah ibuku, dibalik tanah merah yang berbalut debu..

aku hanya ingin nikmati bumi..
dan belajar memaknai apa itu sunyi.

070730lonely_2

tak perlu judul

July 6th, 2008 by dyahanindita

cukupkan semua hingga sampai di masa itu,
masa dimana rengkuh indah belai kasih begitu jingga,
kau tegak berdiri di sisiku,
seolah hingarnya lampu kota dengan mudah mengikis seorang aku,

*ga tau lagi mau nulis apa..*

…and this is a true Love story…

July 6th, 2008 by dyahanindita


akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu?
memintaku minum susu, dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku..


Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah mandala wangi
Kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram..
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ?
Ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat…

Apakah kau masih akan berkata, ¨Kudengar detak jantungmu..¨
Kita begitu berbeda dalam semua,

Kecuali dalam cinta...

-Puisi Cahaya Bulan -Gie-

——————————————————————————————————————————–

thereś an awesome story, then keep it being an awesome story between us,
just close my eyes from now,
just close my ears from now,
just close my mouth from now,
then, just open and write those sweet memories,
the new your life, yes..this is yours,
the new my life, yes..this is mine,
yes, this is my way and that is your way

thereś an awesome story, then keep it being an awesome story between us.

-hilang, lepas, terbang yang tinggi-

this is life..
this is life..
this is life..
and this is a true Love story..

Sandiwara Fabel : Tujuh Meter dari Bangsal Jiwa

March 9th, 2008 by dyahanindita

Semburat goresan pena hitam terukir jelas di wajah itu..

Seolah bekerja keras mengaburkan kenaifan yang memuakkan..

Menjumput, mengais belas kasihan dari orang-orang dengan topeng
binatang..

Di atas panggung itu kau bermain..

Panggung dengan sengkala dalam cerita..

 

Di sini aku berdiri..

Di sini aku tersekat dari gerak..

Di sini aku berdialog dalam kenisbian,

cih…

rupanya aku mulai terjangkit schizofrenia catatonic..

ahh…pecundang macam apa pula aku ini..

hanya bisa terdiam, dan menerawang kosong dari balik bangsal jiwa..

 

Bangsal dengan bilik berjamur tempatku tidur,

tidak jauh dari panggung orang-orang bertopeng binatang..

Bahkan aku bisa mendengar, menyaksikan dengan jelasnya

bagaimana mereka bersandiwara..

 

Hmmm…

sesimpul senyum tergaris di bibir yang semakin menghitam ini..

 

dulu, waktu aku masih muda..

aku pemeran utama wanita dalam sandiwara mereka..

 

dulu, waktu aku masih muda..

aku yang diarak di atas garuda..

 

dulu, waktu aku masih muda..

aku yang paling mereka puja..

 

hingga sampai di masa itu,

saat dimana topeng dewi sri digantikan dengan topeng binatang,

dan aku terpuruk bagaikan seorang yang terkena teluh..

Ditinggalkan di jalan..

Dicampakkan tanpa belas kasihan

Tersentak, aku terkekeh perlahan menanyakan..

apakah aku perlu belas kasihan?

 

Tidak!!!!!

 

Aku hanya ingin wajah dengan goresan pena hitam itu memikirkan,

TAHUKAH  KAMU  RASANYA
DIJADIKAN  KUDAPAN??!!!

 

 

Bandung, 080308/14:26

-dalam sesak yang melesak-

-dalam amarah yang menyeruak-

 

AKU RINDU KEPALAKU (MIKE/1946/COLORADO)

March 9th, 2008 by dyahanindita

“Sudah satu tahun
ini aku hidup tanpa kepalaku, dan aku hanya bisa merasakan keberadaannya di
dekatku dalam kondisi sudah dikeringkan..” Itu gw ilustrasikan sebagai sebagian
kecil jeritan hati Alm. Mike, di tahun 1946. Mike kehilangan kepala tepatnya
pada tanggal 10 September 1945. Dan bisa bertahan hidup selama 2 tahun !!!
“OMG!!”

 

Gimana bisa?
Katanya sih..keberuntungan Mike adalah karena pembuluh venanya tidak ikut
terpenggal, dan ada banyak batang otak yang masih menempel di lehernya. (kata
ade gw, batang otak itu terdiri dari apa…apa…dan apa…gitu…yang gw lupa
namanya.. >.< maap.. dan pada batang otak terdapat pusat kesadaran..)

 

Jadi, siapakah Mike
sebenarnya??

Mike adalah seekor
ayam gemuk milik Lloyd Olsen, di Colorado pada tahun 1945-an. Sampai akhir
hayat Mike, Lloyd berhasil mencapai masa kejayaan dengan mengumpulkan 4500
dolar/bulan, dan dihargai 10.000 dolar, melalui pertunjukan “Mike si Ayam Tanpa
Kepala”

 

-okey..sampai di
sini udah ada yang bingung belum, wahai pembaca yang setia? =p-

 

Cerita di atas
berhasil gw dapatkan dari satu buku karangan John Lloyd & John Mithinson,
dengan judul : Apakah Hitler Vegetarian ? & Dari Lantai Berapa Paling Baik
Untuk Melempar Kucing ?

 

Hohohoho…

Bukunya bagus…banyak
banget pertanyaan-pertanyaan aneh yag jawabannya gak terduga. Salah satunya
adalah cerita di atas dengan judul : “Berapa Lama Seekor Ayam Bisa Hidup Tanpa
Kepalanya ?”
Menarik..Buku ini bahkan termasuk genre buku non fiksi-sains populer.

 

Tapi dari semua itu, ada
beberapa hal yang gw cermati. Seberapa jauh orang-orang yang membaca buku ini
akan percaya dengan isinya? Bahkan gw sendiri sempet mikir..semakin dibaca, gw
semakin merasa membaca suatu kebohongan publik. Gw gak mengatakan bahwa buku ini
menipu orang banyak, Cuma perlu sedikit kritis untuk membacanya, sebelum
nyebarin isinya ke orang lain (hahaha..gaya..=p). Apa masalahnya??

Buku ini sangat sedikit
(bukan tidak sama sekali) mencantumkan sumber-sumber otentik dari data yang
mereka kemukakan. Jangankan footnote, daftar pustaka aja ga ada..

 

Ya…walaupun
jawaban-jawabannya logis sih..tapi kan tetep aja, kita butuh dasar untuk
percaya kan?? Kalau mau positif thinking sih nih ya…mungkin..si penulis
sengaja biar kita gak percaya gitu aja. Karena semakin kita banyak baca,
semakin banyak kita dapet sesuatu, bukan kah akan terasa semakin gak tau
apa-apa? Mungkin si penulis ingin kita cari tau sumbernya sendiri, jadi bisa
tau secara langsung dan mungkin akan lebih banyak lagi yang kita dapet dari hasil
eksplorasi tersebut..(iya gitu?? Huhuhu…maksa banget deh Yah… =()

 

Toh gak semua yang kita
baca itu bener…=D

 

”Kita hanya mengetahui
seperjuta dari satu persen mengenai apapun” –Thomas Alfa Edison-